Feeds:
Pos
Komentar

Kredit Perbankan
Lembaga keuangan merupakan suatu organisasi yang fungsi utamanya menyalurkan dana masyarakat, dari masyarakat yang surplus sebagai sumber dana kepada masyarakat yang deficit(kekurangan) dana (financial intermediary), dalam bentuk kredit. Salah satu lembaga yang termasuk sebagai lembaga keuangan ialah Bank. Dalam melaksanakan fungsi financial intermediary, bank harus menyalurkan dana yang dimilikinya -dari masyarakat surplus- ke dalam bentuk –salah satunya- kredit kepada masyarakat yanmg membutuhkan dana(defisit). Dalam melaksanakan fungsinya, diharapkan bank akan mendapatkan penghasilan berupa bagi hasil atau dalam bentuk pengenaan bunga kredit.
Kredit merupakan merupakan suatu fasilitas keuangan yang memungkinkan seseorang atau badan usaha untuk meminjam uang dengan nominal tertentu dalam jangka waktu tertentu dan tingkat bunga tertentu. Dana yang disalurkan dalam bentuk kredit bersumber dari dana simpanan pihak ketiga dalam bank yang bersangkutan. Nantinya, selisih antara bunga kredit dengan bunga deposit adalah keuntungan bank.
Sebagai suatu badan yang memiliki kewenangan dalam membuat kebijakan moneter, Bank Indonesia menghimbau bank umum untuk mencari sumber keuntungan melalui kredit, agar uang tetap beredar di masyarakat dengan begitu bank telah menjalankan fungsinya sebagai financial intermediary, meskipun bank dapat pula bergerak dalam kegiatan sekuritas moneter seperti pasar uang dan lain lain dalam mencari keuntungan.
Kredit memiliki beberapa peranan, antara lain: (1) untuk meningkatkan daya guna uang, (2) meningkatkan peredaran dan lalulintas uang, (3) meningkatkan daya guna dan peredaran barang, (4) menjadi salah satu penjaga stabilitas ekonomi, (5) meningkatkan kegairahan berusaha, (6) meningkatkan pemerataan pendapatan, (7) serta menjadi alat untuk meningkatkan hubungan internasional.
Dalam rangka mendorong masyarakat menggunakan dana bank, melalui fasilitas kredit ini kemudian bank banyak bekerjasama dengan lembaga lembaga independent seperti leasing ataupun agency. Leasing dan agency berusaha menyediakan dana(kredit) kepada masyarakat tentunya dengan persyaratan pinjaman yang lebih mudah dibandingkan persyaratan pinjaman ke bank. Seperti halnya leasing yang meningkatkan kredit melalui penjualan suatu produk dengan cicilan, agency juga berusaha meningkatkan kredit melalui pemberian pinjaman berupa uang kepada masyarakat dengan cara yang lebih mudah dibandingkan dengan melakukan pinjaman langsung kepada bank namun dengan konsekuensi tingkat bunga agency lebih tinggi daripada tingkat bunga bank.
Pembahasan kali ini akan lebih mengacu kepada penyaluran kredit melalui agency, apakah keuntungannya bagi perbankan, seberapa besar peran agensi dalam meningkatkan jumlah penyaluran kredit, serta apa pengaruh agensi sebagai suatu lembaga penggerak kredit terhadap tingkat kolektibilitas kredit.

Definisi Agensi
Agensi adalah suatu lembaga keuangan nonbank yang menyediakan jasa kredit kepada masyarakat dengan jaminan lebih rendah dibandingkan dengan bank. Agensi dibentuk sebagai suatu media penyalur kredit dalam rangka meningkatkan jumlah penyaluran kredit kepada masyrakat. Agency biasanya memberikan pinjaman dalam bentuk kredit konsumen, artinya dana yang salurkan diperuntukkan untuk konsumsi masyarakat(konsumtif). Posisi agency terhadap Bank dapat dilihat pada gambar berikut :

Dalam ilustrasi di atas digambarkan bahwa bank meminjamkan sejumlah dana dalam jumlah besar dengan tingkat bunga i1 kepada agensi, selanjutnya agensi meminjamkan dana pinjamannya kepada kreditor dalam bentuk kredit konsumen dengan tingkat bunga tertentu i2. Dimana i2 > i1. Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa kredit bank juga berperan sebagai penyedia dana bagi agensi. Agensi memberikan pinjaman berupa uang kepada masyarakat dengan syarat yang lebih mudah dibandingkan dengan melakukan pinjaman langsung kepada bank tentunya dengan konsekuensi tingkat bunga yang lebih tinggi.
Agensi sebagai penyedia dana untuk konsumen masyarakat dapat diklasifikasi menjadi beraneka ragam bentuknya salah satu yang terkenal dan paling banyak diminati akhir-akhir ini adalah agensi kartu kredit yang akan dibahas pada subbab berikutnya.
Agensi Kertu Kredit
Agensi kartu kredit merupakan perusahaan yang ditugaskan oleh bank penerbit kartu kredit (Card Issuer) untuk memasarkan produk kartu kredit mereka kepada khalayak ramai. Dalam menjalankan tugasnya, perusahaan agensi akan merektut dan menugaskan para agen-agen kartu kredit mereka. Pada dasarnya, perusahaan agensi bukan saja tergantung pada pinjaman tunai maupun kartu kredit saja tetapi juga obligasi dan berbagai produk bank lainnya, tergantung produk yang dikeluarkan oleh bank yang bersangkutan serta kerjasama antara pihak bank dan perusahaan agensi.
Akhir-akhir ini banyak bank yang menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan agensi, dengan alasan efisiensi dan efektivitas dalam memasarkan produknya, diharapkan agency dapat memperluas penyebaran dana bank melalui fasilitas kredit sehingga lebih efisien dan efektif.
Resiko Kredit
Ketika bank memberikan pinjaman uang kepada nasabah, bank tentu saja mengharapkan keuntungan bunga atas pokok pinjaman kreditornya. Oleh kerena itu, sebelum melakukan kredit, tentunya bank akan melakukan analisis terhadap resiko yang mungkin terjadi atas penyaluran kreditnya, salah satunya ialah kredit macet.
Bank tentunya mempunyai risiko atas kredit yang disalurkannya, sehingga dengan demikian dalam pelaksanaannya bank harus memperhatikan asas-asas perkreditan yang sehat. Untuk mengurangi risiko tersebut, bank harus memiliki jaminan pemberian kredit dalam konteks keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan merupakan faktor yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh bank sebelum memberikan kredit.
Tingkat kesehatan bank merupakan hal terpenting yang harus diusahakan oleh manjemen bank. Pengelola bank diharuskan memantau keadaan kualitas aktiva produktif yang merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kesehatan bank.
Dalam dunia perbankan, terdapat indikator yang digunakan dalam menganalisa kemungkinan resiko kredit macet. Hal itu telah diatur oleh Bank Indonesia yang disebut sebagai tingkat kolektibilitas kredit.
Kolektibilitas Kredit
Penilaian terhadap kualitas aktiva produktif didasarkan pada tingkat kolektibilitas kreditnya. Kolektibilitas adalah suatu pembayaran pokok atau bunga pinjaman oleh nasabah sebagaimana terlihat dalam tata usaha bank berdasarkan Surat Keputusan Bank Indonesia No.32/268/KEP/DIR tanggal 27 Februari 1998.
Penggolongan kolektibilitas aktiva produktif sampai sejauh ini hanya terbatas pada kredit yang diberikan. Ukuran utamanya adalah ketepatan pembayaran kembali pokok dan bunga serta kemampuan debitur baik ditinjau dari usaha maupun nilai agunan kredit yang bersangkutan.
Berdasarkan penilaian yang dilakukan oleh bank untuk melihat kemampuan debitur dalam mengembalikan pembayaran pokok atau angsuran pokok dan bungan sesuai dengan jangka waktu yang telah disepakati bersama dalam perjanjian kredit serta ditinjau dari prospek usaha, kondisi keuangan dan kemampuan membayar kredit yang diberikan, maka seluruh kredit yang telah diberikan dapat digolongkan manjadi 5 (lima) golongan, yaitu
1. Kategori Kredit Lancar ( Pass ) apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
• Pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu.
• Memiliki Mutasi rekening yang aktif.
• Bagian dari kredit dijamin dengan uang tunai.
2. Kategori Kredit Kurang Lancar ( Substandard ) apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
• Terdapat tunggakan angsuran Pokok dan Bunga yang telah melampaui 90 hari.
• Frekuensi mutasi rendah.
• Terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang telah di janjkan lebih dari 90 hari
• Terjadi Mutasi masalah keuangan yang dihadapi debitur.
• Dokumentasi pinjaman lemah.
3. Kategori Kredit Diragukan (Doubfull) apabila memenuhi kriteria sebagai berikut:
• Terdapat tunggakan angsuran pokok atau bunga yang telah melampaui 180 hari.
• Terjadinya wanprestasi lebih dari 180 hari.
• Terjadi cerukan yang bersifat permanen.
• Terjadi Kapitalisasi bunga
• Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian maupun Pengikat pinjaman.
4. Kategori Kredit Macet ( Loss ) apabila memenuhi kriteria :
• Terdapat tunggakan angsuran pokok yang telah mencapai 270 hari.
• Kerugian operasional di tuntut dengan pinjaman baru
• Dari segi hukum maupun kondisi pasar. Jaminan tidak dapat di cairkan pada nilai wajar

Kredit Macet
Kredit macet atau kredit bermasalah (Non Performing Loan) merupakan suatu resiko akibat kegagalan atau ketidakmampuan nasabah mengembalikan jumlah pinjaman yang diterima dari bank beserta bunganya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditetapkan atau dijadwalkan. Yang termasuk ke dalam non performing loan adalah kredit kurang lancar, kredit diragukan dan kredit macet. Menurut Surat Edaran Bank Indonesia No. 3/30/DPNP Tanggal 14 Desember 2001, NPL dapat dihitung dengan rumus :

Peningkatan NPL dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan bank, oleh karena itu bank dituntut untuk selalu menjaga kredit tidak dalam posisi NPL yang tinggi.
Agar dapat menentukan tingkat wajar atau sehat maka ditentukan ukuran standar yang tepat untuk NPL. Dalm hal ini Bank Indonesia menetapkan bahwa tingkat NPL yang wajar adalah  5% dari total portofolio kreditnya. Selain dengan menggunakan NPL untuk menetukan tingkat kesehatan bank ada beberapa rasio sewbagai tolok ukur yang dinilai dari tingkat kolektibilitas kredit.

Tolok Ukur Penilaian Kolektibilitas Kredit
Untuk mengetahui tingkat kesehatan kredit tersebut telah dikeluarkan SK DIR BI No. 31/147/KEP/DIR, tanggal 12 November 1998 sebagai pedoman untuk menilai tingkat kolektibilitas kredit (Syahyunan, 2002) , diantaranya adalah sebagai berikut:

Keterangan :
DPK = Dalam Perhatian Khusus
KL = Kurang Lancar
D = Diragukan
M = Macet
Ketentuan Bank Indonesia (BI) yang menyatakan bank berkinerja baik mencatat kredit macet maksimal 5% (mengacu pada angka yang dipersyaratkan BI pada Non Performance Loan).
Nilai kolektibilitas kredit kita gunakan sebagai dasar perhitungan kualitas aktiva produktif dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Kriteria kesehatan bank dapat dikelompokkan dalam 4 (empat) kelompok yaitu :

Pengaruh Agensi Kredit Terhadap Kolektibilitas
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa peran dari lembaga non bank seperti parusahan agensi bertujuan untuk meningkatkan kredit, dilihat dari keuntungannya dimana tidak terdapat terlalu banyak persyaratan untuk dapat melakukan pinjaman, sehingga cenderung lebih mudah dibandingkan dengan melakukan peminjaman langsung kepada bank maka dapat dikatakan bahwa kehadiran perusahaan agensi dapat secara potensial meningkatkan kredit, sehingga dana bank dapat tersebar di masyarakat. Namun disisi lain, karena perusahaan agensi merupakan pihak ketiga, dimana sumber dananya juga berasal dari bank, sehingga menyebabkan tingkat bunga yang ditawarkan untuk pinjaman akan lebih tinggi, hal ini dapat secara signifikan meningkatkan kredit macet dan non performing loan, apabila dilakukan tanpa pengawasan dan analisis kredit yang memadai.
Referensi :
http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=32938
http://www.belajar-asuransi.com/2010/08/kolektibilitas-kredit-perbankan-dan.html
http://allerwiin.blogspot.com/2010/02/bank-dan-lembaga-non-perbankan.html
http://www.mafiakartukredit.com/2012/01/agensi-marketing-kartu-kredit-indonesia.html
http://www.google.co.id/url?sa=t&rct=j&q=alat+ukur+tingkat+kolektibilitas&source=web&cd=1&ved=0CEkQFjAA&url=http%3A%2F%2Fharyramadhon.files.wordpress.com%2F2008%2F05%2Fjurnal-kolektibilitas-kredit.doc&ei=KrPNT5ikI8vOrQfC27GSDQ&usg=AFQjCNGLeP940Ff37fXN5wM-C2ZUhy12wg&cad=rja

Negative Mismatch

 

Oleh : Aqilah Shalihatulhayah (20210977)
Dewi Mayasari (21210907)
Noviana Pratiwi (25210071)

 

Negative Mismatch
         Sebagai suatu lembaga masyarakat yang menjalankan fungsi intermediasi, yaitu lembaga yang menghimpun dan menyalurkan dana masyarakat, bank tidak terlepas dari berbagai resiko usaha, salah satunya ialah resiko yang berkaitan dengan masalah likuiditas. Yang merupakan masalah yang cukup krusial dan banyak dialami beberapa bank yang pada akhirnya harus dilikuidasi karena tidak mampu memenejemen dan mengatur aliran dananya dengan baik. Oleh karenanya diperlukan adanya suatu kebijakan dan manajemen resiko yang baik sehingga tingkat resiko yang memiliki kemungkinan untuk terjadi dapat diidentifikasi, dimonitor serta dikendalikan sehingga resiko yang berkaitan dengan masalah likuiditas dapat selalu dijaga untuk selalu berada dalam tingkat yang dapat ditoleransi.
         Dalam makalah kali ini akan dibahas mengenai masalah mismatch atau gap yaitu suatu ketidak seimbangan sebagai suatu masalah yang berkaitan dengan tingkat likuiditas suatu bank. Lalu langkah apa yang harus ditempuh dalam mengatur aliran dana bank untuk meminimalisasi terjadinya ketidak seimbangan antara penerimaan dan penarikan dana pada bank yang dikenal dengan mismatch.
Likuiditas Perbankan
           Likuiditas pendanaan, dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu bank dalam memenuhi kewajiban dengan relatif cepat ketika kewajiban tersebut jatuh tempo, atau secara sederhana, likuiditas adalah suatu keadaan di saat suatu pihak memiliki kecukupan dana saat dibutuhkan. Sehingga suatu bank disebut likuid disaat bank tersebut mampu memenuhi kewajibannya saat kewajiban tersebut jatuh tempo.  Sedangkan yang dimaksud dengan kewajiban adalah berupa permintaan likuiditas yang bersumber dari penarikan dana masyarakat atau pencairan kredit yang sudah disetujui atau penarikan lainnya oleh para kreditor bank.
           Sehingga pada prinsipnya likuiditas adalah kemampuan bank untuk menyediakan sejumlah dana untuk memenuhi permintaan dana pihak lain. Sehingga, likuiditas bank dapat dicapai saat jumlah pengeluaran atau pembayaran dana (outflow) lebih kecil dari persediaan uang atau kas yang dimiliki bank. Dapat dinyatakan dengan notasi sebagai berikut
Outflow < inflow + Stock of Money
           Sebagaimana kita ketahui, bahwa sumber dana bank ialah berasal dari masyarakat dan kemudian dialokasikan kepada masyarakat lagi dalam berbagai macam jenis pinjaman atau kredit. Didalam masalah likuiditas, hal yang perlu diperhatikan salah satunya ialah karakteristik sumber dana bank yang beraneka ragam dengan variasi tingkat volatilitas yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Misalnya ialah simpanan giro yang memiliki peluang lebih besar untuk ditarik oleh nasabahnya dibandingkan dengan deposito, atau dapat dikatakan sifat giro yang lebih volat dibandingkan dengan deposito ataupun tabungan. Hal hal seperti tersebut lah yang menjadi pertimbangan suatu bank dalam menentukan besarnya dana yang akan dipinjamkan sebagai kredit ke masyarakat. Sehingga antara Asset dengan liabilities harus selalu terjaga keseimbangannya agar suatu bank memiliki tingkat likuiditas yang baik.
Negative Mismatch dalam Masalah Likuiditas
             Mismatch dapat diartikan sebagai suatu ketidak seimbangan antara penerimaan dan penarikan dana pada bank, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Dikatakan sebagai positive mismatch disaat Rate Sensitive Asset (asset yang sensitive terhadap bunga) lebih besar daripada Rate Sensitive Liabilities (kewajiban yang sensitive terhadap bunga) yang berarti bahwa pendapatan bergerak searah dengan tingkat bunga. Sedangkan negative mismatch terjadi disaat rate sensitive asset lebih kecil daripada rate sensitive liabilities yang berarti bahwa tingkat bunga dan tingkat pendapatan bergerak dalam arah yang berlawanan. Rumus Mismatch atau Gap dapat digambarkan sebagai berikut :
Mismatch = RSA – RSL
             Dapat dikatakan bahwa negative mismatch terjadi sebagai akibat dari adanya menejemen likuiditas yang kurang baik. misalnya ialah pendanaan pinjaman jangka pendek dengan sumber dana deposito masyarakat yang bersifat jangka panjang atau sebaliknya, juga memberikan pinjaman dengan tingkat bunga kredit yang lebih kecil dari tingkat bunga sumber dana. Contohnya ialah pemberian pinjaman untuk Kredit Usaha Kecil dengan menggunakan dana yang bersumber dari deposito masyarakat. Hal ini tidak dapat dilakukan karena tingkat bunga deposito lebih tinggi dari tingkat bunga kredit. Hal ini akan menciptakan suatu kerugian bagi bank, karena sumber keuntungan bank adalah selisih positif dari tingkat bunga deposit dan tingkat bunga kredit. Sehingga, seharusnya kredit Usaha Kecil dapat didanai oleh simpanan masyarakat pada bank yang memiliki tingkat bunga lebih rendah misalnya ialah tabungan. Jenis simpanan Giro juga tidak dapat digunakan untuk mendanai Kredit Usaha Kecil karena memiliki volatilitas yang tinggi sehingga dapat ditarik oleh pemilikinya sewaktu waktu dibandingkan dengan tabungan.
              Dari kasus diatas, diperlukan adanya suatu manajemen yang baik yang mengatur keseimbangan antara asset dan kewajiban untuk menghindari terjadinya dampak dari negative mismatch.
Gap Management
              Manajemen Gap adalah upaya upaya yang dapat digunakan untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (mixmatch) antara assets dan liabilities pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam hal jumlah dana, suku bunga, maturity atau perpaduan ketiganya (mix mismatch). Gap Management adalah suatu aktifitas untuk menata dan mengatur Assets dan Liabilities yang sensitive terhadap gejolak tingkat bunga, dalam meminimalisasi pengaruhnya sehingga dapat dicapai keuntungan yang stabil dan berkembang.
              Tujuan dari Gap manajemen adalah mengelola resiko perubahan tingkat bunga dalam hubungannya dengan kesenjangan posisi (mixmatch) untuk tujuan repricing structure pada kedua posisi neraca (Assets dan Liabilities), memaksimalkan pendapatan bunga neto (net interest income) namun tetap pada tingkat fresiko yang dapat ditolerir dan menata struktur neraca untuk mencapai hasil maksimal dalam kaitannya dengan arah prubahan tingkat bunga yang mungkin terjadi, atau dengan kata lain bahwa tujuan dari Gap Manajemen adalah untuk mempersempit lebarnya kesenjangan antara Rate Sensitive Asset dan Rate Sensitive Liability.
               Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penatan sensitive Asset dan sensitive liabilities antara lain adalah Maturity and Repricing, maturity adalah jangka waktu sisa jatuh tempo, sedangkan repricing adalah jangka waktu penetapan kembali tingkat suku bunga. Maturity dan repricing disini adalah Maturity atau Repricing yang telah disepakati bersama oleh kedua belah pihak atau disebut Contractual DateInterest Rate Forecast, yaitu perkiraan terhadap perubahan tingkat bunga. Accelerating Change, yaitu pengaturan posisi dengan berdasar kepada interest rate forecast.

Keputusan yang diambil dalam manajemen Gap misalnya ialah dengan :

  •   mengubah struktur jangka waktu liabilities dalam menentukan sumber dana dan tingkat bunganya.
  • Mengubah struktur jangka waktu Asset misalnya dengan mengubah kebijakan kredit dan mengubah struktur jangka waktu asset dalam hal penjualan investasi.

Referensi :

http://bankirnews.com/index.php?option=com_content&view=article&id=119:gap-management-a-net-interest-margin&catid=70:alma&Itemid=103

http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/peb96120.pdf

Catatan BLK 2 (31 Mei 2012)

Diagram Tingkat Suku Bunga Kredit Komersial Tahun 2002 sampai Maret 2012

Kredit komersial adalah salah satu bentuk penyaluran dana bank (use of fund), kredit komersial diperuntukan bagi setiap pengusaha di bidang perdagangan maupun pembangunan yang bersifat komersial sebagai penggerak dalam kegiatan sektor riil.

Kedua grafik di atas menggambarkan tingkat suku bunga untuk kredit komersial selama sepuluh tahun, yaitu dari tahun 2002 sampai dengan bulan Maret 2012. Untuk bank persero, BUSN(Bank Umum Swasta Nasional), BPD(Bank Pembangunan Daerah) dan joint venture. Secara keseluruhan, grafik tersebut menunjukkan penurunan tingkat suku bunga kredit komersial sejak tahun 2002 hingga 2012. Secara umum, dapat disimpulkan adanya peningkatan yang signifikan pada kualitas perbankan dewasa ini, hal itu ditunjukkan dengan adanya penurunan pada suku bunga kredit komersial yang  merupakan salah satu indikator ekonomi. Tentunya hal ini akan meringankan bagi para pelaku dunia usaha (sektor riil) untuk memperoleh kredit. Penurunan tingkat suku bunga kredit komersial tidak lepas dari peran serta Bank Indonesia sebagai pembuat kebijakan moneter dalam rangka menjaga kestabilan ekonomi. BI sudah beberapa kali menurunkan suku bunga dasar (BI Rate). Penurunan suku bunga ini, dilakukan sebagai stimulus perekonomian dalam usaha meningkatkan permintaan kredit dalam dunia usaha(sektor riil), yang dalam jangka panjang, dalam gilirannya sehingga dapat mengkompensasi kejatuhan arus dana masuk dari luar dan dapat menjaga sektor riil dari keterpurukan.

Namun penurunan tingkat suku bunga tidak serta merta dapat dikatakan mampu menggerakkan sektor riil. Hal ini dapat dilihat dalam grafik, sepanjang 2002 sampai 2012 suku bunga kredit komersial masih berada pada level 12 sampai 15 persen sehingga dapat dikatakan belum cukup berhasil dalam menggerakkan perekonomian pada sektor riil. Hal ini dikarenakan perbankan tidak serta merta mengucurkan kreditnya ke sektor riil dalam rangka menjaga tingkat non performing loans (kredit macet) yang masih tinggi. Hal ini bukan tanpa alasan, banyaknya sektor riil yang dirasa belum terbukti mampu dalam menangani pembiayan kredit menjadi alasan utama. Meskipun bank sudah gencar dalam memasarkan kredit komersial, namun kenyataannya masih banyak sektor riil yang tergolong belum siap dan handal menangani konsekuensi kredit serta banyaknya unused plafond dan undistributed loan. Oleh karena itu, pada saat itu bank lebih memilih untuk membeli Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang memiliki tingkat bunga kompetitif dan dijamin aman.

Kembali kepada pergerakan tingkat suku bunga kredit komersial yang digambarkan dalam grafik diatas, dapat dilihat bahwa pada tahun 2004 sampai 2006 terjadi kenaikan tingkat suku bunga secara serempak untuk Bank persero, BUSN, BPD dan JV, yang juga terjadi pada tahun 2007 sampai 2008 kecuali untuk BPD selama tahun 2007 sampai 2008 stabil menurun. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan tingkat suku bunga komersial pada tahun-tahun tersebut, diantaranya belum stabilnya kondisi keuangan Indonesia pasca krisis ekonomi dunia yang menyebabkan dampak buruk pada pertumbuhan ekonomi. Adanya krisis global menyebabkan ketidakpastian usaha sehingga menurunkan daya beli, yang diinterpretasikan dalam bentuk premi resiko suku bunga, peningkatan pada premi resiko suku bunga menjadi faktor penambah dalam penghitungan suku bunga kredit komersial yang menyebabkan bunga kredit tetap tinggi.

Selain itu ialah masalah segmentasi perbankan yang memiliki likuiditas besar, menengah, dan kecil. Perbedaan kebutuhan likuiditas ini mengakibatkan sulitnya penurunan bunga kredit. D isatu sisi, perbankan dengan likuiditas kecil akan berlomba-lomba untuk menaikan likuiditas dengan menaikan tingkat bunga simpanan. Di sisi lain perbankan dengan kemampuan likuiditas yang lebih besar akan memilih menjaga tingkat bunga yang profitable baik dari simpanan maupun kredit.

Faktor lainnya ialah  karena tingginya tingkat bunga yang disebabkan oleh penawaran obligasi baik pemerintah maupun asing, tentunya dengan tingkat bunga yang menggiurkan. Karena alasan ini, perbankan lebih tertarik menempatkan dananya pada instrument pemerintah yang relatif aman dan menguntungkan dibandingkan dengan menerbitkan kredit yang tergolong riskan.

Sedangkan untuk BPD, pada tahun 2007 sampai 2008 tidak mengalami kenaikan dan memiliki grafik yang lebih stabil. Salah satu faktor keberhasilan BPD dikarenakan karena kemampuannya dalam menambal modal inti. Contohnya seperti Bank Jabar Banten dan Bank Jatim yang telah memperoleh modal inti diatas $1 triliun sejak 2007. Modal inti, merupakan indikator utama keberhasilan bank untuk dapat menjaga eksistensi dalam ketatnya persaingan bisnis dalam dunia perbankan. Dengan kecukupan modal ini, kelembagan PBD menjadi kuat serta mampu mnopang bisnis secara ideal di daerahnya msing masing. Dengan kemampuan permodalan tersebut, ekspansi bisnis PDB menjadi lebih agresif, ditandai dengan stabilitas tingkat suku bunga kredit yang mampu meningkatkan penyaluran dana untuk kredit komersial yang pada tahun 2007 samapai 2008 mencapai 20% membuat pangsa pasar kredit menjadi lebih besar di daerahnya masing masing.

Ada tiga langkah yang dapat ditempuh untuk mempercepat transmisi penurunan suku bunga komersial. Pertama, percepatan pengesahan Rancangan Undang Undang Jaring Pengaman Sistem Keuangan (RUU JPSK) . Percepatan pengesahan RUU itu akan membantu mengeliminasi segmentasi pasar perbankan nasional yang saat ini masih terbelah dua,antara bank-bank besar dan bank-bank menengah kecil. Peraturan ini bila disahkan nantinya memperbolehkan BI untuk menjamin pinjaman yang dilakukan oleh perbankan melalui pasar uang antarbank sepanjang memenuhi beberapa kriteria.Dengan jaminan ini, otomatis bukan hanya bank besar, melainkan juga bank menengah kecil bisa menawarkan suku bunga kredit komersial yang lebih rendah.

Langkah kedua, pengupayaan penurunan suku bunga kredit oleh perbankan besar seperti bank pemerintah dan bank swasta nasional melalui dikeluarkannya peraturan BI. Dengan adanya penurunan oleh bank-bank tersebut, dapat direspon perbankan lain dalam menurunkan tingkat bunga sehingga tingkat bunga dapat turun serempak yang dapat segera disalurkan dalam bentuk kredit ke sektor riil. Namun, pemerintah harus merelakan penurunan nilai pembagian dividen karena turunnya tingkat bunga. Upaya ini akan efektif karena akan banyak penyaluran kredit ke sektor riil yang pada akhirnya juga akan meningkatkan perekoomian nasional.

Langkah ketiga, meningkatkan peranan perbankan nasional dalam peluncuran paket stimulus fiskal. Paket stimulus fiskal dalam berbagai sektor ekonomi dapat di intermediasikan melalui perbankan yang sudah jelas arah serta aturan penyalurannya daripada melalui lembaga pemerintah yang masih terkendala oleh rumitnya birokrasi

Referensi:

http://www.infobanknews.com/2012/05/17-bpd-siap-raih-regional-champion/

http://jurnalskripsi.com/analisis-pengaruh-suku-bunga-sertifikat-bank-indonesia-jumlah-uang-beredar-inflasi-nilai-tukar-rupiah-suku-bunga-sibor-terhadap-suku-bunga-pinjaman-bank-umum-yang-ditetapkan-oleh-bank-indonesia-pa-pdf.htm

http://nameisthatha.blogspot.com/2011/01/makalah-modal-asing-dan-utang-luar_22.html

http://www.madani-ri.com/2009/04/18/deviasi-bi-rate-dan-suku-bunga-kredit/

http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2012/02/17/177446/Momentum-Kebangkitan-Sektor-Riil

http://www.bankriau.co.id:8888/?pg=dtl&fid=pbi&id=20060208172013&year=2004&PHPSESSID=78a75235bec07ed4e95fccedc989f519

A Little Note From Subject Matter

 

Artikel ini berisi potongan catatan pribadi saya dari pertemuan di kelas, antara lain :

1. Kerja bank sebagai financial intermediary diilustrasikan seperti tangan kanan dan tangan kiri, tangan kanan bank bertugas menghimpun dana dari masyarakat sedangkan tangan kirinya bertugas mengalokasikan/menyalurkan kembali dana yang telah diperoleh sehingga bank dapat memperoleh keuntungan.

(nb: penjelasan lengkap ada di artikel sebelumnya)

2. Bank memiliki tiga laporan utama, yaitu : neraca, laporan laba/rugi, dan TRA(catatan sementara). TRA biasa disebut off balance sheet atau kontinjensi.

TRA digunakan untuk mencatat misalnya barang jaminan/anggunan, barang anggunan baru menjadi milik bank dan boleh diakui bank ketika terjadi gagal bayar sehingga anggunan tsb akan dimasukan ke neraca, tetapi selama tidak terjadi gagal bayar sampai pada tanggal penyelesaian kredit anggunan tsb dicatat dalam TRA.

3. Tugas utama BI ialah menstabilkan nilai Rupiah terhadap harga barang-barang(inflasi) dan menstabilkan nilai Rupiah terhadap valas.

Fungsi pokok BI :

a. Sistem pembayaran

b. Pengaturan dan pengawasan bank umum

c. Pelaksana kebijakan moneter:

i. Kontraksi moneter à kewajiban menaikkan cadangan wajib(cash ratio) bank umum di BI sehingga jumlah uang yang beredar berkurang

ii. Relaksasi moneter à BI menurunkan besarnya cash ratio/cadangan wajib yang ditaruh di BI sehingga jumlah uang yang beredar bertambah.

4. Kliring adalah proses tagih menagih antarbank. Ketika Pak Udin nasabah bank A membayarkan cek kepada Pak Roni dan pak Roni mau memasukkan nilai sebesar tersebut ke dalam rekeningnya di bank B, maka pak Roni tidak perlu repot-repot ke bank A mencairkan cek lalu ke bank B untuk menabung. Pak Roni bisa langsung ke bank B. Bank B dan bank A akan bertemu di BI(modern ini secara vitual/by phone) mengecek ketersediaan dana Pak Udin di bank A sehingga bank B menaggih uang sebesar nilai cek tsb pada bank A dana tersebut dikirim bank A kepada bank B melalui pemindahan rekening antarbank di BI. Nantinya akan muncul bank yang menang kliring dan kalah kliring, bank yang kalah kliring sehingga jumlah cadangan wajibnya kurang, maka bank yang kalah kliring dapat meminjam kepad abank lain untuk menutupi kekurangan dananya.

Sumber Dana Bank dan Penyalurannya

         Pada artikel sebelumnya telah kita bahas mengenai fungsi bank sebagai financial intermediary. Sekarang kita akan membahas sumber dana, yaitu simpanan mempunyai berbagai bentuk dan penyaluran dana yang telah diperoleh bank dalam fungsi bank sebagai financial intermediary juga memiliki beberapa bentuk dalam penyalurannya. Telah kita ketahui bahwa inti manajemen bank ialah “bagaimana bank mengelola dan menyelaraskan sumber dana bank dengan penyaluran dana bank tersebut”. Sumber dana (Source of fund) berupa simpanan dana masyarakat surplus yang akan disalurkan bank ke dalam bentuk investasi, kredit, dll.

Sumber dana bank berupa simpanan. Simpanan adalah dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada bank berdasarkan perjanjian penyimpanan dana dalam bentuk giro, deposito, dll.

Bentuk-bentuk simpanan:

a. Giro : simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lainnya, atau dengan pemindahbukuan

b. Deposito : simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank

c. Sertifikat deposito : simpanan dalam bentuk deposito yang sertifikat bukti penyimpanannya dapat dipindahtangankan

d. Tabungan : simpanan yang penarikannya dapat dilakukan sewaktu-waktu dan hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang disepakati, tetapi tidak ditarik dengan cek atau bilyet giro

Dana yang berasal dari masyarakat juga dialokasikan bank dalam bentuk surat berharga. Surat berharga adalah surat pengakuan hutang, wesel, saham obigasi, sekuritas kredit, atau suatu kewajiban dari penerbit dalam bentuk yang lazim diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang.

Tidak semua dana yang diterima dari masyarakat disalurkan bank ke aktiva produktif, bank harus mempertimbangkan aspek profitabilitas dan likuiditas, porsi yang tidak disalurkan untuk mencari profit digunakan bank untuk berjaga – jaga kalau ada penarikan atau pembayaran yang harus dilakukan oleh bank. Porsi dana yang digunakan untuk berjaga–jaga dialokasikan dalam bentuk: Kas, simpanan di Bank Indonesia, dan asset lain yang dinilai likuid. Porsi utama dana disalurkan dalam bentuk aktiva produktif digunakan untuk mencari keuntungan bank.

Empat kelompok utama aktiva produktif(earning asset):

a. Kredit : penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan/kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga, termasuk overdraft, pengambilalihan tagihan dalam rangka kegiatan anjak piutang, pengambilalihan/pembelian kredit dari pihak lain.

b. Surat berharga : surat pengakuan hutang, wesel, obligasi, sekuritas kredit, dll dalam bentuk yang lazim untuk diperdagangkan dalam pasar modal dan pasar uang.

c. Penempatan : penanaman dana bank pada bank lain dalam bentuk giro, interbank call money, deposito berjangka, sertifikat deposito, dll sejenisnya.

d. Tagihan akseptasi : tagihan yang timbul sebagai akibat akseptasi yang dilakukan terhadap wesel berjangka

e. Penyertaan modal ; penanaman dana bank dalam bentuk saham pada bank dan perusahaan di bidang keuangan lainnya

f. Penyertaan modal sementara : penyertaan modal oleh bank pada perusahaan debitur untuk mengatasi kegagalan bayar oleh debitur

g. Transaksi rekening administratif : kewajiban komitmen dan kontinjensi yang antara lain meliputi: penerbitan jaminan, letter of credit(LC), dll.

h. Sertifikat Bank Indonesia(SBI) : surat berharga dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh BI sebagai pengakuan hutang berjangka pendek

Referensi : E.S. Margianti-Budi Hermana, Manajemen Dana Bank”Prinsip dan Regulasi di Indonesia”

Dalam kehidupan ekonomi modern, setiap transaksi yang kita lakukan sebagian besar bekaitan dengan bank, seperti pembayaran listrik dan telepon, transfer pembayaran, dll melalui bank. Kata bank sudah sering kita dengar tetapi banyak orang mendefinisikan bank hanya sebagai lembaga penyimpanan dana dan sarana transaksi. Lebih dari itu sebenarnya bank memiliki fungsi yang lebih kompleks, yaitu bank sebagai financial intermediary(perantara keuangan).

Bank sebagai financial intermediary dapat diilustrasikan sebagai berikut:

Ilustrasikan bahwa bank memiliki tangan kanan dan tangan kiri:

Tangan kanan bank menerima dana dari masyarakat yang surplus dana sedangkan tangan kiri bank berfungsi menyalurkan kembali dana tersebut kepada masyarakat yang deficit dana. Bank memberikan bunga atas dana yang disimpan masyarakat surplus dan bank juga memberikan bunga atas pinjaman yang diberikan kepada masyarakat deficit dana(debitur). Besarnya bunga pinjaman tentunya lebih besar dari bunga simpanan, dari selisih bunga tersebut bank mendapatkan laba(laba diperoleh setelah pendapatan bank dikurangi biaya operasional dan non operasional bank).

Jadi dapat disimpulkan bahwa bank sebagai financial intermediary memiliki fungsi utama menghimpun dana dari masyarakat surplus dan selanjutnya dana tersebut dialokasikan atau disalurkan lagi kepada masyarakat deficit(masyarakat yang memerlukan pembiaayaan dari bank).